Pernyataan Prof. Yudhie Haryono Yudhie “Indonesia telah lama mati”

Bima Kota ~ Detektif87 ~ Pernyataan Prof. Yudhie Haryono Yudhie “Indonesia telah lama mati” ini tepat sekali tuan guru. Bukanlah panduan hiperbola emosional semata, bukan pula mantra pesimistis, apalagi nubuat gelap yang lahir dari keputusasaan, itu empirik. Itu adalah kesimpulan rasional yang akurat dari pengamatan panjang terhadap runtuhnya sendi-sendi yang seharusnya menopang sebuah bangsa untuk tetap hidup. 


Danil Akbar mengatakan. Sebab sebuah negara tidak diukur dari bendera yang berkibar, gedung yang menjulang dan atau angka pertumbuhan yang diumumkan. Melainkan dari ada-tidaknya keadilan sosial, keadaban kemanusiaan serta moralitas dalam mengelola alam begitu pula kehidupan bersama. Ketika ketiganya lenyap, yang tersisa hanyalah tubuh administratif tanpa jiwa, mesin kekuasaan tanpa makna, wilayah bernama negara yang sesungguhnya telah kehilangan eksistensinya.


Apa arti sebuah negeri jika hukum tidak lagi melindungi yang lemah, tetapi menjadi tameng bagi yang kuat? Apa makna kemanusiaan jika penderitaan dianggap statistik dan korban diminta berdamai dengan nasib? Apa gunanya pembangunan jika alam diperlakukan sebagai komoditas sekali pakai dan generasi masa depan diwarisi kerusakan permanen? Dalam kondisi seperti itu, menyebut Indonesia masih hidup justru menjadi bentuk penyangkalan kolektif. Yang berjalan di hadapan kita bukanlah republik yang berdaulat, melainkan sistem oligarkis yang menguasai ruang, sumber daya, kedaulatan dan imajinasi rakyat.


Karena itu, tepat sekali tuan guru bahwa kebangkitan tidak mungkin lahir dari tambal sulam kebijakan atau pergantian wajah elite. Yang dibutuhkan adalah napas jenius, sebuah peta baru yang tidak hanya menunjukkan arah, tetapi juga membongkar ilusi lama. Di titik inilah Nusantara Studies menemukan relevansinya, bukan sebagai disiplin akademik kering tanpa tujuan, melainkan sebagai proyek raksasa yang sangat fundamental melakukan pembebasan kesadaran. Ia bukan sekedar nostalgia romantik, bukan pula glorifikasi masa lalu, melainkan upaya sistematis membaca kembali pengalaman sejarah, kebudayaan, dan pengetahuan lokal dengan nalar kritis, agar kita tidak terus hidup dalam kerangka pikir yang diwariskan oleh kolonialisme yang kini diperbarui oleh otak-otak oligarki.


Dalam Nusantara Studies kita berharap dapat memberi sekaligus menjadi alat transformasi untuk keluar dari ketergantungan intelektual, dari cara berpikir yang selalu meminjam peta orang lain untuk membaca tanah sendiri. Ia menempatkan manusia Nusantara sebagai subjek, bukan objek; sebagai perumus masa depan, bukan sekadar penonton kebijakan.


Dengan cara itu, studi ini membentuk pribadi yang merdeka dalam berpikir, mandiri dalam bertindak, modern tanpa kehilangan akar, dan bermartabat tanpa harus meniru. Ia menumbuhkan kesadaran bahwa menjadi tuan di negeri sendiri bukan slogan, melainkan hasil dari disiplin intelektual, keberanian moral, dan kesetiaan pada kebenaran dan keadilan di atas tanah air sendiri.


Lebih jauh kami berharap, bahwa Nusantara Studies bukan hanya mencetak individu tercerahkan, tetapi membangun barisan pasukan kesadaran yang tidak mudah dibeli, tidak mudah ditakut-takuti, dan tidak mudah dibodohi. Dari sanalah patriot sejati lahir, bukan yang gemar berteriak nasionalisme, tetapi yang tangguh berbudi, teguh melawan ketidakadilan, dan setia pada semesta dan kemanusiaan. Jika Indonesia ingin hidup kembali, ia tidak memerlukan mitos baru atau pemimpin mesianis yang sulit kita temukan, melainkan manusia-manusia merdeka yang berani berpikir, berani bertindak, dan berani merebut kembali makna negeri ini dari tangan oligarki dan konglomerat jahat yang selama ini menghisapnya sampai kering.


Kita ada, karena kita berpikir dan bertindak untuk mewujudkan harapan besar kita. Kesadaran sejati tak mungkin membiarkan peradaban bangsa tenggelam oleh kebisingan dunia yang sesat arah oleh trend pikiran zaman yang telah merusak moral dan nilai-nilai keadaban dan peri-kemanusiaan. Pungkasnya Danil Akbar, salam ta'dzim Tuan Guru. ✍️BD🇲🇨

Komentar

Detektif87

Pasca Pembubaran FPI, Kabaharkam Polri: Mau Jadi Apa Negara Ini kalau Kita Diam

Mobil Dinas Di Kabupaten Bima, Keluyuran Di Hari Minggu Diduga Jalan-jalan kepentingan pribadi.

Wacana Pemekaran di NTB Telah Sirna Ditelan Maling Divestasi Saham Newmont